Belajar Public Speaking dari Dr.Adiwarman Karim (Bagian #1)

Saya mengenal Dr.Adiwarman karim kira-kira tahun 2010, ketika itu beliau menyampaikan tema zakat di itikaf ramadhan Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta. Sebelumnya nama beliau jg saya kenal lewat buku Islamic Banking (Fiqh and Analysis) milik teman yang belajar ekonomi syariah di UIN Syarif Hidayatullah.  Kalau ditotal-total hingga hari ini sudah 3 kali saya menyimak Dr.Adi.

1. Di masjid agung sunda kelapa
2. Di salah satu kantor perusahaan di jakarta
3. Di youtube

Ketika di sunda kelapa, kira-kira hampir satu setengah jam lebih beliau bicara di atas mimbar. Dari awal saya amati, tidak ada audience yang mengobrol, berisik, bahkan tidak ada yang mengantuk ! (padahal ketika itu hari sudah larut malam). Ajaibnya – semakin lama paparan, audience malah seolah terhipnotis fokus menyimak apa yang disampaikan oleh beliau. Di kesempatan tema lain, saya mengamati ada beberapa audience yang hingga melongo ketika menyimak paparan beliau.  Bahkan ada juga audience yg saya kenal (sebut saja pak xyz) – tipenya serius sekali, wajahnya jarang sekali tersenyum apalagi tertawa dalam kehidupan sehari-hari – baru kali itu saya lihat pak xyz bisa tertawa dengan khidmat.  Saya terkesan, saya tertarik mempelajari teknik public speaking beliau.

Saya coba rangkumkan secara singkat beberapa teknik public speaking yang saya amati dari Dr.Adiwarman.  Bagaimana cara mentranfser ilmu secara efektif, efisien, dan berhasil !.

1. Persingkat pembukaan

Kesalahan fatal para pembicara di atas mimbar (presenter) adalah – “Kelamaan ketika menyampaikan pembukaan” !.  Para presenter biasanya melakukan pembukaan dengan memuji Allah dan bershalawat kepada kanjeng nabi dalam bahasa arab. Nah disinilah letak fatalny, Kalimat pembukaan tadi rata-rata diulang kembali dalam bahasa indonesia yg kurang lebih : “Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT…, dst,dst kemudian shalawat serta salam marilah kita sampaikan kepada… dst, dst”.

Ini kira-kira bisa menghabiskan waktu 5 menit lebih. Padahal kalimat dalam bahasa Indonesia tersebut artinya sama persis dengan yang bahasa arab di depan. Pengulangan tidak perlu ini akan memberikan first look yang negatif pada presenter. Bukan maksudnya melarang untuk bershalawat, tapi dengan bahasa arab yg sederhana di awal, audience pun sebenarnya sudah mengerti maknanya.  Ibarat komputer, audience tidak ingin melihat software yang sedang dibuka – loadingnya lama.  Betul tidak ?,  Bayangkan anda punya pekerjaan mendesak pakai LibreOffice, ketika dibuka LibreOfficenya loadingnya lama banget. Apa gak ente geprak-geprak itu keyboard di meja ?.

Apa yang dilakukan oleh Dr.Adiwarman adalah, beliau cukup hamdalah dan bershawalat dalam bahasa arab, kemudian langsung masuk ke topik pembicaraan. Efektif dan efisien.

2. Paparkan topik pembicaraan dalam point-point.

Sarikan inti dari paparan pembicaraan dalam point-point. Misalnya ketika beliau berbicara tentang ekonomi syariah, beliau selalu sampaikan dan ulang-ulang seperti ini (saking seringnya beliau ulang, point ini saya hingga hafal tanpa pakai catatan), bahwa pilar ekonomi syariah ada 3 :

  1. La tudzlimuna wala tudzlamun  – Jangan engkau mendzhalimi, dan jangan mau dizhalimi. harus cerdas !
  2. Khairunnas anfa’uhum linnas - Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.
  3. Lillahi ma fissamawati wal ard. Kepunyaan Allahlah semua yang ada di langit dan di Bumi.

Daftar point ini ibarat pembuatan indeks ketika menulis sebuah buku. Indeks ini akan berfungsi sebagai alat bantu dan memudahkan kita dalam menemukembalikan informasi yang terserak dalam memori otak. Betul ?, lanjut ke yang ketiga.

3.  Selalu berikan pengibaratan & contoh dalam bentuk kisah

Ketika berbicara perihal kecerdasan dalam konteks “La tudzlimuna wa tudzlamun”. Dr.Adi langsung berkisah bagaimana dulu Muhammad ketika berdagang ke negeri Syam. Para pedagang Mekkah melakukan dumping price agar dagangan nabi tidak laku, mereka tidak senang dengan perilaku Muhammad yang selalu jujur dalam berdagang. Semua pedagang Mekkah yang satu rombongan dengan Muhammad banting harga di Syam, sehingga seluruh pelanggan lari semua ke para pelaku dumping.  Barang-barang para pelaku dumping ini habis seketika, mereka langsung pulang ke Mekkah.

“Rasakan muhammad, daganganmu tidak akan laku kali ini”, sahut mereka. Muhammad tidak berani ikut banting harga – karena produk bawaannya adalah milik Khadijah. Namun bukan Muhammad namanya kalau tidak cerdas, beliau berpikir dan yakin betul bahwa ketika itu Demand atas produk lebih tinggi daripada Supply-nya. Muhammad tetap bertahan pada harga jual normal, dan benar saja para pelanggan kemudian memborong barang-barang Muhammad dengan harga normal. Beliau membuat gempar para pedagang Mekkah sepulangnya dari Syam, ia tetap berhasil untung besar meski telah dicurangi sedemikian hingga. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad.

(Bersambung)

About these ads

Satu pemikiran pada “Belajar Public Speaking dari Dr.Adiwarman Karim (Bagian #1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s