The Science Of Shalat (Cuplikan bagian tahajud)

Resume kali ini ane akan sedikit berkisah (caelah, kayak abunawas aja ente bang jholay berkisah)  buku karangan Prof.Dr.Ir. Osly Rachman M.S  nyang berjudul The Science Of Shalat. Sabtu kemaren kan libur, yah kita bedua bingung mau pegih kemana, mau ke mall  – isinya begitu-begitu aja, mau makan – kayaknya udah pada dicobain semua, mau boker – udah tadi pagi, masa boker lagi. Akhirnya daripada betelor di rumah – kita  putuskan tancap gas menuju Gramedia di bilangan Margonda, Depok.

Awalnya ane hanya kepingin cari buku kisah sahabat bakal diceritain sama anak bini ben ba’da magrib, Eh pas searching-searching ketemu sama buku ini.  Pada intinya buku ini bercerita seputar filosofi shalat, Dan buku ini jholay banget, karena di dalamnya Prof Osly akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibalik shalat seperti di bawah ini – sepertinya kita juga punya rasa penasaran yang sama atas pertanyaan ini ?

1. Mengapa shalat harus 5 waktu ?
2. Mengapa shalat wajib dilaksanakannya ketika subuh, dzuhur, ashar, magrib, dan isya.
3. Mengapa harus berwudhu dahulu sebelum shalat ?
4. Mengapa disunahkan bangun malam, lalu shalat (padahal mata lagi ngantuk-ngantuknya)

Pada posting kali ini ane tuliskan cuplikan atas jawaban pertanyaan nomer keempat ya,  Dijamin pada langsung kepingin tahajud dah abis baca cuplikan ini. Okeh, tanpa banyak sambutan dari rt, rw dan lurah langsung aje ye:  

Dr. Soleh berangkat dari hipotesa bahwa hormon kortisol di dalam darah merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini terus meningkat saat kita berada dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang terus meningkat, kita akan mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat menjadi kurang baik. Hormon ini dijadikan tolak ukur unutk mengetahui derajat stres seseorang. semakin tinggi hormon kortisol seseorang di dalam darahnya maka semakin tinggi pula tingkat stresnya. Pada pagi hari, hormon kortisol normal berkisar pada 38-690 nmol/liter, sedangkan pada malam hari sekitar 69-345 nmol/liter.

Disertasi ini melibatkan 19 siswa yang terus melakukan tahajud selama dua bulan. Shalat tahajud dimulai pada pukul 2.00 hingga 3.30 wib dan dikerjakan sebanyak 11 rakaat terdiri dari 8 rakaat 4 kali salam dan shalat witir sebanyak tiga rakaat. selanjutnya hormon kortisol 19 sisqa tersebut diperiksa di tiga laboratorium di surabaya . Apa yang terjadi ? para siswa yang mengerjakan shalat tahjud secara rutin berbeda dengan siswa yang tidak melaksanakannya. Mereka yang melaksanakan shalat Tahajud memiliki kadar hormon kortisol lebih rendah. Hal ini mendakan bahwa mereka memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil.

Apa manfaat lain bangun di tengah malam untuk menunaikan shalat Tahajud ? Seperti disinggung di muka, pada malam hari, alam berwarna putih dan suasana sangat hening serta tenteram. Bangun malam untuk melakukan shalat Tahujud hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki niat kuat. Niat yang kuat didorong oleh motivasi yang kuat.

Bacaan yang kita lantunkan di malam hening seperti itu, dengan keadaan fisik kita yang diam dan pikiran yang berhenti sepenuhnya, akan memberikan dampak yang sangat besar dan mengesankan dalam berkomunikasi dengan Allah SWT. Dengan demikian, orang yang melakukan shalat Tahajud akan merasakan ketengan di dalam jiwanya. (gbr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s